Halo, Teman Sehat! Selama masa pandemi Covid-19, pasti banyak aktivitas kamu yang tertunda kan? Pasalnya, saat ini pemerintah menganjurkan di rumah aja dan diperbolehkan keluar rumah hanya untuk keperluan sangat mendesak. Hidup new normal juga memengaruhi cara mengonsumsi makanan. Apakah sekarang kamu lebih sering makan di rumah dibandingkan di restoran?

Nasi merupakan makanan pokok yang paling sering dimasak sendiri dan disimpan untuk nanti dikonsumsi lagi terlebih pada masa pandemi seperti ini. Apakah cara menyimpan nasi yang kamu lakukan sudah tepat sehingga mampu mencegah kontaminasi penyakit? Yuk, simak penjelasannya di sini!
Nasi dan pengolahannya
Nasi merupakan jenis makanan pokok yang dikonsumsi oleh mayoritas penduduk Indonesia. Saat ini, pembuatanya lebih sering menggunakan alat penanak otomatis. Beras direbus dengan cara menambahkan sejumlah air lalu biarkan alat bekerja. Penggunaan pemanas juga dapat menjadi solusi untuk memperpanjang umur simpan nasi.
Namun, jika nasi matang dibiarkan terlalu lama, kualitasnya pun menurun. Penurunan kualitas ini ditandai dengan perubahan warna menjadi kekuningan, berbau tengik, dan rasa berubah.
Apa penyebab perubahan kualitas nasi?
Perubahan kualitas nasi diakibatkan oleh aktivitas bakteri. Menurut BPOM RI, jenis bakteri yang umumnya terdapat pada nasi yaitu Bacillus cereus. Bakteri ini menyebabkan diare dan muntah pada penderitanya. Gejala tersebut biasa terjadi 6-15 jam setelah mengonsumsi bahan makanan yang terkontaminasi.
Sayangnya, bakteri ini mampu memproduksi protein toksin yang stabil terhadap panas. Dengan kata lain, memanaskan nasi yang sebelumnya sudah terkontaminasi bakteri Bacillus cereus ngga akan mampu menghilangkan protein toksin tersebut
Upaya pencegahan Bacillus cereus
Berikut cara-cara yang bisa kamu lakukan untuk mencegah produksi Bacillus cereus:
1. Segera mengonsumsi makanan yang telah dimasak
Menurut International Food Research Journal, bakteri ini bisa bertambah banyak dan memproduksi endospora jika bahan pangan disimpan pada suhu ruang dalam waktu yang lama. Jadi, upaya pencegahan yang paling mudah adalah dengan mengonsumsi makanan secara langsung setelah dimasak. Dengan begitu, bakteri ini ngga mempunyai cukup waktu untuk bertambah banyak dan menyebabkan penyakit.
2. Menyimpan di lemari pendingin
Walaupun upaya pencegahan yang paling mudah adalah dengan menyantap secara langsung, lalu bagaimana jika dalam keadaan tergesa-gesa dan ngga sempat mengonsumsinya? Cara lain yang bisa kamu lakukan adalah menyimpannya di lemari pendingin. Suhu yang rendah dapat mencegah berkembangnya bakteri Bacillus cereus, loh!
3. Memasak bahan pangan
Selain dua langkah di atas, upaya pencegahan selanjutnya yang bisa kamu lakukan adalah memasak makanan kamu dengan sempurna. Artinya, hindari menyantap makanan dalam keadaan mentah atau setengah matang. Adapun metode memasak yang bisa menjadi pilihan diantaranya dipanggang, diuap di bawah tekanan, digoreng, atau dibakar. Metode memasak tersebut bisa merusak spora dan sel bakteri Bacillus cereus
Nah, kamu sudah mengetahui pentingnya metode penyimpanan dan pemasakan nasi yang tepat, kan. Jangan lupa perhatikan dan atur makanan yang hendak kamu konsumsi agar terhindar dari penyakit, ya! Bagikan informasi menarik ini ke orang-orang di sekitar kamu!
Editor & Proofreader: Mega Kurniawati, SGz


What role do bacteria, specifically Bacillus cereus, play in causing changes in the quality of rice, according to BPOM RI (Indonesia’s Food and Drug Monitoring Agency)? How does the presence of Bacillus cereus in rice lead to symptoms like diarrhea and vomiting, and what is the typical timeframe for these symptoms to manifest after consuming contaminated food, as outlined by BPOM RI?
Visit us telkom university