Perlukah Suplementasi Vitamin D saat Pandemi?

Halo, Teman Sehat! Menjaga tubuh tetap fit saat pandemi merupakan cara untuk menjaga kekebalan tubuh. Nah, salah satunya dengan mengonsumsi makanan dengan kandungan gizi seimbang supaya kebutuhan zat gizi makro dan mikro terpenuhi.

Masa pandemi ini juga membuat masyarakat lebih rajin mengonsumsi suplemen tambahan seperti vitamin D, untuk memperkuat daya tahan tubuh. FYI, Indonesia merupakan salah satu negara tropis dengan angka kekurangan vitamin D yang cukup tinggi, loh! Jadi, sebenarnya penting ngga sih minum suplemen vitamin D setiap hari? Simak ulasan berikut, yuk!

Risiko kekurangan vitamin D

1. Kurangnya paparan sinar matahari

Teman Sehat, kurangnya aktivitas di luar rumah sangat berpengaruh terhadap kadar vitamin D dalam tubuh. Sebab pada prinsipnya vitamin D merupakan vitamin larut lemak yang bisa diproduksi sendiri oleh tubuh dan bisa dikatifkan dengan bantuan paparan sinar matahari.

Jadi meski sedang pandemi, kamu juga perlu terkena paparan sinar matahari. Nah, sesuai dengan perannya untuk membantu penyerapan kalsium dalam regenerasi tulang dan gigi, serta dalam menjaga sistem kekebalan tubuh, efek kekurangan vitamin D ini  bisa menyebabkan berbagai gangguan kesehatan seperti rakhitis, osteomalasia dan rendahnya imunitas tubuh.

2. Asupan makanan yang kurang vitamin D

Selain diproduksi oleh tubuh, vitamin D juga bisa diperoleh dari makanan yang kamu konsumsi. Dilansir dari NHS UK, contoh rekomendasi makanan tinggi vitamin D yaitu produk perikanan yang memiliki kandungan minyak ikan yang tinggi seperti ikan kembung, tuna, salmon, serta daging merah, hati, kuning telur, keju dan serealia yang terfortifikasi vitamin D.

3. Pemberian ASI berkepanjangan tanpa suplementasi vitamin D

Nah, periode emas 1000 hari pertama kehidupan (HPK) juga merupakan fase kritis terjadinya kekurangan vitamin D. Hanya dengan mengonsumsi ASI terkadang belum bisa memenuhi asupan harian vitamin D bayi. Terutama bila bayi tersebut kurang terpapar sinar matahari karena menggunakan tabir surya saat berjemur.

Kebutuhan suplemen vitamin D sesuai usia

Beberapa kelompok usia tertentu seperti bayi, balita, perempuan yang sedang hamil dan menyusui, serta lansia ternyata lebih rentan mengalami kekurangan vitamin D. Adapun rekomendasi suplemen vitamin. Berdasarkan kelompok usia tersebut, yaitu:

  • 400 IU untuk bayi;
  • 600 IU untuk anak dan dewasa; dan
  • 800 IU untuk lansia.

Dosis ini berlaku untuk seseorang yang masih cukup mendapatkan asupan vitamin D. Apabila kamu masuk dalam kelompok rentan mengalami kekurangan (defisiensi) vitamin D, dosisnya akan ditingkatkan sesuai dengan rekomendasi dokter.

Nah bagaimana, Teman Sehat? Sebagai masyarakat yang hidup di negara dengan intensitas matahari cukup, kamu bisa lebih memanfaatkannya untuk pembentukan vitamin D. Yuk, selalu terapkan asupan gizi seimbang dan jangan lupa lakukan aktivitas fisik minimal 30 menit sehari, ya! Jika memungkinkan kamu bisa melakukannya di bawah sinar matahari. Stay healthy and be happy!

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti STP

Referensi

Rimahardika, R., H. W. Subagio dan H. S. Wijayanti. 2017. Asupan Vitamin D dan Paparan Sinar Matahari pada Orang Yang Bekerja di Dalam Ruangan dan di Luar Ruangan
https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jnc/article/view/18785/17869
Diakses pada 25 Januari 2021

Michael F. Holick. The Vitamin D Defi ciency Pandemic: a Forgotten Hormone Important for Health
https://publichealthreviews.biomedcentral.com/track/pdf/10.1007/BF03391602.pdf
Diakses pada 25 Januari 2021

National Health Institute (NHS). Vitamin D.
https://www.nhs.uk/conditions/vitamins-and-minerals/vitamin-d/
Diakses pada 25 Januari 2021

Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2016. Perlukah Suplemen Vitamin D?
https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/perlukah-suplemen-vitamin-d
Diakses pada 25 Januari 2021

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.