Sahabat Sehat, mungkin kamu familiar dengan istilah alergen dan toksin. Berbicara mengenai toksin tahukah kamu bahwa biji dalam aprikot, apel, dan ceri menyimpan bahaya jika dikonsumsi? Biji dalam buah tersebut mengandung amygdalin yang dapat dimetabolisme menjadi hidrogen sianida.
Apa itu Amygdalin?
Amygdalin atau d-mandelonitrile-β-d-gentiobioside adalah glukosida sianogenik yang diisolasi dari almond dan biji dari tanaman lain dari keluarga Rosaceae. Amygdalin ditemukan secara melimpah dalam biji-bijian dan biji beberapa buah, seperti aprikot, almond, apel, ceri, prem, lemon, persik, dan nektarin. Amygdalin terbentuk secara alami pada tumbuhan dan dapat diubah oleh emulsi tumbuhan (kombinasi glukosidase dan nitrilase) atau asam klorida menjadi benzaldehida, D-glukosa, beserta asam hidrosianat.

Ketika gangguan sel terjadi karena proses mekanik, glikosida sianogenik bersentuhan dengan β-glukosidase dan α-hidroksinitrile lyase yang berakhir dengan perilisan hidrogen sianida. Sementara glikosida sianogenik adalah racun yang banyak di temukan dalam biji dan sebagian daging buah sebagai bentuk perlindungan dari hewan pemangsa.
Konsentrasi dan Batas Aman Amygdalin
Biji aprikot memiliki kandungan amygdalin yang lebih tinggi dan lebih mudah memproduksi hidrogen sianida daripada apel dan persik. Amigdalin aprikot berkisar pada 0,1 – 4,1 mg/g (bergantung daerah tumbuh dan kepahitan biji), almond 14 g/kg, persik 6,8 g/kg, prem 4–17,5 g/kg (tergantung varietas), dan biji apel 3 g/kg. Sebenarnya, amygdalin bukanlah racun, tetapi bisa menjadi berbahaya setelah bereaksi dengan enzim tertentu.
Gejala Keracunan Amygdalin
Amygdalin menjadi berbahaya ketika dihidrolisis oleh enzim emulsin dari biji hancur atau oleh beberapa mikroorganisme usus manusia untuk menghasilkan sianida. Amygdalin umumnya lebih banyak terserap di dalam usus halus (usus dua belas jari). Metabolismenya terjadi secara perlahan, sehingga mengakibatkan toksisitas klinis yang tertunda. Gejala keracunan amygdalin dapat berupa pusing, cemas, sakit kepala dan kebingungan bagi manusia.
Adanya pengolahan, seperti penghancuran, perendaman, fermentasi, dan pengeringan dapat mengurangi jumlah sianida dalam makanan. Meskipun biji apel ngga dikonsumsi langsung, tetapi bisa saja terkonsumsi melalui jus apel yang dihasilkan dari apel utuh tanpa memisahkan biji. Penghancuran biji karena diblender ini dapat membuat jus apel terkontaminasi amygdalin.

Panel European Food Safety Agency tentang Kontaminan dalam Rantai Makanan mempelajari potensi toksisitas amygdalin dalam biji aprikot. Dilaporkan bahwa toksisitas sianida akut terjadi pada orang dewasa yang mengonsumsi ≥ 20 biji dan ≥ 5 pada anak-anak.
Kontroversi Amygdalin sebagai Obat Kanker
Amygdalin pertama kali diisolasi pada tahun 1830 dari biji almond pahit (Prunus dulcis) dan dipatenkan pada tahun 1961 untuk menjadi bahan utama laetrile, turunan semisintetik amygdalin yang lebih sederhana. Pada tahun 1845 amygdalin digunakan sebagai pengobatan kanker di Rusia, dan pada 1920-an di Amerika Serikat, tetapi dianggap terlalu beracun. Kemudian, FDA pada 1977 melarang pengiriman amygdalin dan laetrile antar negara bagian. Klaim bahwa laetrile atau amygdalin memiliki efek positif pada pasien kanker belum didukung data klinis yang kuat. Selain itu, ada indikasi efek samping yang serius dari keracunan sianida setelah mengonsumsi laetrile atau amygdalin.
Sahabat Sehat, itulah informasi seputar amygdalin yang biasa ditemukan dalam aprikot dan almond. Semoga info ini bermanfaat!
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
