Sahabat Sehat, aemia dapat terjadi pada siapa saja, namun perempuan terutama Ibu hamil sangat rentan mengalaminya. Hasil Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada ibu hamil sebesar 48,9%, dan sedikit mengalami penurunan berdasar data SKI 2023 menjadi 27,7%. Anemia dapat membahayakan ibu dan janin dalam kandungan serta bayi yang akan dilahirkannya.

Apa itu Anemia?
Anemia adalah kondisi ketika jumlah sel darah merah atau konsentrasi hemoglobin (Hb) lebih rendah dari normal. Hemoglobin diperlukan untuk membawa oksigen , sehingga ketika kadar Hb rendah maka akan turun juga kapasista Hb membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Akibatnya timbul gejala, seperti 5 L (lemah, letih, lesu, lelah, lalai) dan sulit berkonsentrasi.
Kekurangan sel darah merah dapat menyebabkan penurunan kadar hemoglobin dalam tubuh. Hemoglobin adalah protein yang terdapat dalam sel darah merah, berfungsi untuk membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh, dan juga membantu membawa karbon dioksida dari seluruh tubuh kembali ke paru-paru untuk dikeluarkan.
Mengapa Ibu Hamil Berisiko Mengalami Anemia?
Ibu hamil sangat rentan terhadap anemia, hal ini karena terjadinya peningkatan kebutuhan zat besi serta zat gizi lain yang diperlukan untuk pembuatan sel darah merah. Saat hamil terjadi peningkatan volume plasma darah yang lebih besar dibandingkan dengan peningkatan eritrosit atau sering disebut dengan hemodilusi (pengenceran darah).
Anemia umumnya disebabkan karena kekurangan zat gizi mikro. Berikut terdapat beberapa zat gizi mikro berikut contoh sumber makanannya agar ibu hamil terhindar dari anemia.
Zat Besi
Zat besi mencegah terjadinya anemia mikrositik hiprokromik. Sumber zat besi dibagi menjadi zat besi heme dan non heme. Sumber zat besi dari hewani disebut zat besi heme, lebih mudah diserap (penyerapan 20 hingga 30%) dibandingkan zat besi non heme. Zat besi heme dapat diperoleh dari mngonsumsi daging, ikan, ayam, hati, telur.

Beberapa contoh sumber zat besi non heme, yaitu tempe, kacang-kacangan, sayuran hijau. Zat besi nabati atau non heme relatif lebih rendah absorbsinya, karena mempunyai ikatan kimia yang lebih banyak dibanding zat besi heme. Tingkat absorbsi nya sekitar 1—10%
Asam folat (Vitamin B9)
Kekurangan konsumsi asam folat dapat menyebakan terjadinya anemia makrositik. Asam folat dapat diperoleh dari sayur hijau, seperti asparagus, bayam, brokoli, dan lettuce. Selain itu, juga terdapat dalam buah (jeruk, alpukat, mangga); kacang-kacangan (kacang merah, edamame); biji-bijian; dan hati.
Vitamin C, B6, dan B12
Vitamin C sangat berguna untuk membantu meningkatkan absorbsi zat besi non heme. Contoh sumber vitamin C, yaitu jambu biji, jeruk, pepaya, tomat, straberry, brokoli, kembang kol, dan kentang.
Vitamin B6 merupakan salah satu faktor penting untuk pembentukan sel darah merah dan Hb. Vitamin ini dapat ditemukan pada ayam, daging, hati, susu, telur, wortel, bayam, dan pisang.
Defisiensi vitamin B12 juga dapat menyebakan terjadinya anemia makrosisitk.
VItamin B12 dapat diperoleh dari sumber hewani dan nabati. Sumber hewani berupa ikan, daging, telur, unggas, susu dan hasil olahnya, hati, seafood. Sedangkan, sumber nabati berupa kacang-kacangann dan buah (pisang, alpukat).
Zink
Zink adalah komponen penting GATA-1, merupakan faktor transkripsi eritroid yang mengatur eritropoiesis atau produksi sel darah merah di sumsum tulang. Suplementasi zink dapat meningkatkan kadar Hb dan mengurangi kebutuhan akan agen perangsang eritropoietin. Beberapa contoh sumber zink, di antaranya daging, ayam, tempe, tahu, kacang-kacangan, dan jamur.
Ditulis Oleh:
Ir. Diah M. Utari
Mahasiswa Profesi Dietisien, IPB University
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

