Asam Lemak Omega-3 dan Depresi? Inilah Penjelasannya!

Teman Sehat, asam lemak omega-3 merupakan lemak tak jenuh ganda yang bertanggung jawab atas sebagian besar manfaat minyak ikan untuk kesehatan otak dan mental. Minyak ikan mengandung dua jenis asam lemak omega-3-EPA dan DHA yang memiliki fungsi antiinflamasi yang kuat.

Asam lemak omega 3 memiliki manfaat pada peradangan, obesitas, penyakit jantung, kanker, fungsi kognitif terutama mencegah dimentia dan alzheimer. Lalu bagaimana hubungannya dengan kondisi seseorang yang menegalami depresi?

EPA dan DHA

Omega 3 EPA dan DHA
Foto: Pixabay.com

Dalam makanan, EPA dan DHA hampir secara eksklusif ditemukan pada ikan berlemak dan minyak ikan (tuna, salmon, makarel, dan sarden). Kebanyakan orang ngga mengonsumsi ikan dalam jumlah yang disarankan, sehingga banyak orang yang masih belum mendapatkan cukup EPA dan DHA dalam makanan mereka.

Tubuh bisa membuat EPA dan DHA dari omega-3 lain yang disebut alpha-linolenic acid (ALA), yang ditemukan di sejumlah sumber makanan, seperti kenari, biji rami, biji chia, minyak kanola, kedelai, dan minyak kedelai. Tapi, manusia ngga bisa mengubah ALA menjadi EPA dan DHA dengan efisien, hanya kurang dari 10% jumlah ALA yang kamu konsumsi bisa diubah menjadi EPA atau DHA.

Asam lemak omega-3 EPA dan DHA sangat penting untuk fungsi, perkembangan, dan pemeliharaan otak. Mereka berlimpah di membran sel otak, menjaga kesehatan membran sel dan memfasilitasi komunikasi antar sel otak.

Omega-3 dan kesehatan mental

Orang-orang telah lama mengira bahwa kecukupan asam lemak omega 3 terkait dengan peningkatan kesehatan mental, tetapi apakah penelitian tersebut benar mendukung klaim ini?

Pengaruh asam lemak omega-3 dengan depresi
Foto: Pixabay.com

Sebuah tinjauan studi klinis baru-baru ini menyimpulkan bahwa mengonsumsi suplemen minyak ikan memperbaiki gejala depresi pada orang dengan depresi, dengan efek yang sebanding dengan obat antidepresan.

Hasil yang sama juga disampaikan oleh Mocking dkk. yang menunjukan hubungan terbalik antara tingkat kortisol dengan konsentrasi EPA dan DHA dalam darah pada individu yang tertekan. Selain itu pemberian suplemen EPA selama delapan minggu menunjukan rendahnya kadar kortisol serum pada pasien yang didiagnosis depresi dan meningkatkan gejala depresi pada pasien yang sama.

Mekanisme yang mendasari peran asam lemak omega-3 pada depresi, yaitu dengan mengatur jalur sinyal BDNF, IGF 1 untuk mendukung sintesis neurotransmitter melalui mitogen-activated protein kinase (MAPK) dan kalsium atau ­calmodulin-dependent protein kinase II (CAMK II). Asam lemak omega-3 bertindak di hippocampus untuk mencegah atau mengurangi timbulnya depresi.

Peran asam lemak omega-3

Penelitian dengan hewan model yang diberi diet EPA selama 6 minggu menunjukan peningkatan dopamin dan serotonin (hormon pengendali emosi) di hippocampus. Tapi, asam lemak omega-3 ngga hanya memainkan peran di hippocampus, akan tetapi juga memiliki peran di hypothalamic-Pituitary Adrenal (HPA) axis. Kekurangan asam lemak omega-3 bisa mengurangi dopamin pada neurotransmisi di prefrontal cortex (PFC) yang memicu gejala depresi.

Asam lemak omega-3 juga mengatur fungsi neurotransmitter termasuk responsivitas, transduksi sinyal, fosfolipid omset, pencegah kematian neuronal, dan peradangan pada saraf. Mekanismenya terjadi di hippocampus, HPA, dan PFC dengan memaikan peran pada neurotransmisi serotonin, dopamin, dan hormon kortisol.

Berapa banyak omega-3 yang perlu dikonsumsi?

Berapa banyak omega-3 yang perlu dikonsumsi untuk mengurangi gejala depresi
Foto: Pixabay.com

Ngga ada rekomendasi resmi mengenai berapa banyak omega-3 dari minyak ikan yang perlu kamu konsumsi untuk melihat manfaatnya pada fungsi otak dan kesehatan mental. Jumlah yang digunakna sangatlah bervariasi.

BPOM Amerika Serikat (FDA) menetapkan batas atas yang aman untuk asupan suplemen omega-3 adalah 3.000 mg per hari. Sedangkan Otoritas Keamanan Pangan Eropa (ESFA) menetapkan rekomendasi yang sedikit lebih tinggi, yaitu ngga lebih dari 5.000 mg per hari.

Teman Sehat, mengonsumsi 1.000–2.000 mg asam lemak omega-3 dari minyak ikan setiap hari kemungkinan besar merupakan titik awal yang baik. Orang dengan depresi disarankan untuk memilih suplemen minyak ikan dengan jumlah EPA yang lebih tinggi.

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti STP

Referensi

Simopoulos AP. 2016. An increase in the omega-6/omega-3 fatty acid ratio increases the risk for obesity. Nutrients. 8:128.

Papanikolaou, Y., Brooks, J., Reider, C., & Fulgoni, V. L. (2014). US adults are not meeting recommended levels for fish and omega-3 fatty acid intake: results of an analysis using observational data from NHANES 2003–2008. Nutrition journal13(1), 1-6.

Messamore E, Almeida DM, Jandacel RJ, et al. 2017. Polyunsaturated fatty acids and recurrent mood disorders: Phenomenology, mechanisms, and clinical application. Lipid Research. 66:1-13.

Mocking, R. J., Harmsen, I., Assies, J., Koeter, M. W., Ruhé, H. G., & Schene, A. H. (2016). Meta-analysis and meta-regression of omega-3 polyunsaturated fatty acid supplementation for major depressive disorder. Translational psychiatry6(3), e756. https://doi.org/10.1038/tp.2016.29

Mocking RJ, Ruhe HG, Assies J, et al. 2013. Relationship between the hypothalamic-pituitary-adrenal- axis and fatty acid metabolism in recurrent depression. Psychoneuroendocrinology. 38:1607-1617.

Gomez-Pinilla F. 2008. Brain foods: The effects of nutrients on brain function. Nut Rev. 9:568-578.

Song C, Manku MS, Horrobin DF. 2008. Long-chain polyunsaturated fatty acids modulate interlukin 1beta induced changes in behavior, monoaminergic neurotrasmitter, and brain inflammation in rats. J Nutr. 138: 954-963.

Tang M, Zhang M, Cai H, et al. 2016. Maternal diet of polyunsaturated fatty acid altered the cell proliferation in the dentate gyrus of hippocampus and influenced glutamatergic and serotoninergic systems of neonatal female rats. Lipids Health. 15:71

Lafourcade M, Larrieu T, Mato S, et al. 2011. Nutritional omega-3 deficiency abolishes endocannabinoidmediated neuronal functions. Nat Neurosci. 14:345–350.

Agostoni, C., Bresson, J. L., Fairweather Tait, S., Flynn, A., Golly, I., Korhonen, H.,& Verhagen, H. (2012). Scientific opinion on the tolerable upper intake level of eicosapentaenoic acid (EPA), docosahexaenoic acid (DHA) and docosapentaenoic acid (DPA): EFSA panel on dietetic products, nutrition and allergies (NDA).

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.