Diet Ketogenik untuk Anak Penderita Epilepsi

Sahabat Sehat, epilepsi sering dialami oleh anak-anak dan bisa kambuh kapan aja, ngga hanya saat demam. Saat ini penderita epilepsi mengonsumsi obat antiepilepsi, namun beberapa penderita ada yang resisten terhadap obat tersebut. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya penanganan lain seperti terapi diet, salah satunya diet ketogenik. Lebih jelasnya, yuk simak ulasannya di bawah ini!

Foto: Freepik.com

Epilepsi

Sebanyak 30% penderita epilepsi mengalami resisten terhadap obat anti-epilepsi. Penderita epilepsi pada anak yang tidak respons terhadap terapi farmakologis menjadi intoleran terhadap efek obat anti epilepsi. Kondisi ini disebut sebagai epilepsi intracable. Pada kondisi ini obat dianggap resisten atau tidak bisa mengontrol epilepsi, sehingga pasien tetap mengalami kejang. Kondisi kejang yang tidak terkontrol akan mempengaruhi kualitas hidup penderita. Oleh karena itu, dibutuhkan terapi lain bagi penderita intoleran obat anti epilepsi, salah satunya melalui terapi diet.

Diet ketogenik untuk epilepsi

Diet ketogenik adalah pengaturan pola makan dengan kadar lemak yang tinggi, protein yang cukup dan rendah karbohidrat. Diet ketogenik dapat mengelola resistensi obat epilepsi dalam studi, menemukan adanya perubahan terhadap metabolisme yang berpotensi mengontrol epilepsi.

Foto: Freepik.com

Pada tahun 2009 hingga 2020, diet ketogenik menjadi terapi untuk mengobati epilepsi yang disimpulkan dari berbagai kasus dan laporan mengenai efektivitas diet ketogenik terhadap penderita epilepsi. Selain itu juga, sekitar tahun 1920, diet ketogenik telah dirancang untuk mengobati kejang dan pembekalan energi melalui badan keton (dari lemak) ke otak ketika kadar glukosa (karbohidrat) lebih rendah di tubuh.

Jenis diet ketogenik yang sering digunakan dalam terapi epilepsi adalah diet ketogenik klasik, Modified Atkins Diet (MAD), Low Glycemic Index Treatment (LGIT), dan Medium Chain Triglyceride (MCT). Diet ketogenik klasik tersusun atas 55-60% lemak, 30-35% protein, dan 5-10% karbohidrat, serta diiringi dengan pembatasan kalori dan cairan.

Efek samping diet

Diet ketogenik diperlukan pemantauan untuk mencegah terjadinya kompilasi. Adapun efek samping jangka pendek di antaranya adalah dehidrasi, hipoglikemia (gula darah rendah), dan metobolik asisosis ringan (penumpukan asam dalam tubuh. Sedangkan efek samping jangka panjangnya, yaitu konstipasi atau susah buang air besar, nephrolithiasis (batu ginjal), peningkatan kolesterol, kekurangan vitamin dan mineral, penurunan densitas mineral tulang, dan pertumbuhan terhambat pada anak usia muda.

Sahabat Sehat, diet ketogenik dapat dijadikan sebagai terapi untuk menangani anak dengan epilepsi, khususnya bagi anak yang resisten terhadap obat anti epilepsi. Diet ini perlu dilakukan dengan adanya bimbingan dan monitoring oleh tenaga ahli gizi maupun dokter, karena terdapat efek samping yang akan dialami oleh anak.

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

Referensi

Cleveland Clinic. 2020. Ketogenic Diet (Keto Diet) for Epilepsy. https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/7156-ketogenic-diet-keto-diet-for-epilepsy. Diakses 20 Februari 2023.

Gurnida, D. A., & Qurbani, S. N. 2013. Tatalaksana Diet Ketogenik pada Penderita Epilepsi Anak Intractable. https://pustaka.unpad.ac.id/archives/128942. Diakses 22 Februari 2023.

Imdad, K., dkk. 2022. The Metabolic Role of Ketogenic Diets in Treating Epilepsy. https://www.mdpi.com/2072-6643/14/23/5074. Diakses 20 Februari 2023.

Sampaio, L. P. D. B. 2016. Ketogenic Diet for Epilepsy Treatment. https://www.scielo.br/j/anp/a/xzbYYJWbjvcwj9WCvP5fVbx/abstract/?lang=en. Diakses 18 Februari 2023.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.