Mengenal Tingkatan Depresi setelah Melahirkan

Melahirkan bisa memicu munculnya berbagai emosi atau perasaan bagi ibu, mulai dari senang, hingga takut dan khawatir. Ngga jarang juga, para ibu sampai mengalami depresi yang dikenal dengan nama depresi setelah melahirkan.

Ada banyak hal yang diduga menjadi pemicunya, diantaranya akibat perubahan hormon, serta kondisi sosial dan psikologi setelah kehadiran bayi. Berdasarkan tingkat keparahannya, ada tiga jenis depresi yang bisa dialami ibu, berikut urutannya dari yang teringan.

Depresi setelah melahirkan
Foto: Unsplash.com

Baby blues

Sindrom baby blues biasanya terjadi beberapa hari atau minggu setelah bayi lahir. Gejalanya ringan dan cenderung hilang dalam jangka waktu 3-5 hari sejak awal muncul. Berikut beberapa gejala dari baby blues, seperti mood berubah-ubah, rasa khawatir/cemas, sedih, sensitif, lelah. Ibu juga bisa saja menjadi lebih sering menangis, konsentrasi menurun, nafsu makan berkurang dan sulit untuk tidur.

Postpartum Depression

Banyak orang sering menyamakan postpartum depression dengan baby blues, tapi gejala postpartum depression ini sebenarnya lebih berat dan terjadi lebih lama. Gejalanya biasanya muncul beberapa minggu hingga satu tahun setelah melahirkan. Ada pula ibu yang mengalami postpartum depression ini sejak masa kehamilan. Gejalanya, seperti perubahan mood yang parah, menangis berlebihan, sulit terhubung dengan bayi, menghindari keluarga dan teman, nafsu makan banyak berkurang atau bertambah, sulit atau terlalu banyak tidur, kelelahan yang parah, kehilangan ketertarikan pada aktivitas yang sebelumnya disukai.

Ada pula yang menjadi lebih sensitif dan mudah marah, memiliki rasa takut ngga bisa menjadi ibu yang baik, merasa putus asa dan menganggap diri ngga berharga, timbulnya rasa bersalah dan malu. Hal ini bisa berakibat pada ketidakmampuan berpikir jernih, berkonsentrasi, atau membuat keputusan, rasa kekhawatiran yang berlebihan, mengalami serangan panik, berpikiran melukai diri sendiri dan bayi, hingga sering berpikir tentang kematian atau bunuh diri.

Jika ngga segera ditangani dengan tepat, postpartum depression ini bisa terjadi hingga beberapa bulan atau bahkan lebih lama dari itu.

depresi setelah melahirkan
Foto: Freepik.com

Postpartum Psychosis

Ini adalah tingkatan depresi paling parah yang bisa terjadi pada ibu hamil atau setelah melahirkan. Kasusnya cukup jarang ditemui dan gejalanya biasanya muncul dalam minggu pertama setelah melahirkan. Beberapa contoh gejalanya, yakni bingung dan kehilangan fokus, pemikiran yang berlebihan tentang bayi, halusinasi dan delusi, gangguan tidur, energi yang berlebihan dan mudah gelisah, paranoia, serta mencoba melukai diri sendiri maupun bayi.

Postpartum psychosis ini bisa saja mengarah ke perilaku yang berbahaya sehingga sebaiknya segera mendapatkan penanganan yang serius dari dokter atau ahli profesional. Depresi pada ibu setelah melahirkan bisa ditangani dengan bantuan dan penanganan yang tepat.

Sahabat Sehat, gejala di atas jangan sampai dibiarkan terlalu lama ya, karena kondisi ibu bisa semakin memburuk. Tentu kondisi ini bisa berisiko memberikan dampak negatif bagi diri sendiri dan juga orang-orang disekitarnya. Sangat disarankan untuk segera menghubungi dokter jika merasa gejala depresi ini bertambah parah dan ngga hilang setelah 2 minggu.

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

Referensi

Mayo Clinic. 2018. Postpartum Depression. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/postpartum-depression/symptoms-causes/syc-20376617. Diakses pada 23 November 2021

WebMD. 2020. Postpartum Depression. https://www.webmd.com/depression/guide/postpartum-depression. Diakses pada 23 November 2021

Office on Women’s Health. 2019. Postpartum Depression. https://www.womenshealth.gov/mental-health/mental-health-conditions/postpartum-depression. Diakses pada 23 November 2021

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.