
Sahabat Sehat, plant-based meat semakin populer dikarenakan menawarkan alternatif pangan lebih sehat dibanding daging. Namun secara bersamaan juga mampu memuaskan lidah karena kemiripan rasanya dengan daging hewan. Sebenarnya, apa itu plant-based meat?
Apa itu plant-based meat?
Plant-based meat merujuk pada produk dari bahan nabati yang dirancang untuk meniru daging hewan, mulai dari rasa, bau, tekstur, sampai penampilan sehingga menjadi substitusi yang realistis. “Daging” nabati dibuat menggunakan satu atau lebih sumber protein nabati dan bisa ditemukan dalam bentuk burger, sosis, daging giling, nugget, atau olahan seafood.
Bahan dan pembuatan plant-based meat
“Daging” nabati dibuat dari berbagai bahan, tergantung jenis daging yang ditiru dan produsen. Biji-bijian dan kacang-kacangan, digunakan untuk protein, serat, dan pati, yang bisa diubah menjadi isolat, tepung, dan konsentrat. Sumber protein berupa kacang polo, kedelai, lentil, quinoa, tepung kentang, kacang hijau; serat (jamur, sayuran); minyak tumbuhan (minyak kelapa, minyak canola, minyak wijen), dan agen pengikat (gluten, kacang-kacangan).
Proses ekstrusi, bahan melalui tahap hidrasi, pemotongan, dan pemasakan. Tahapan ini dirancang untuk meniru karakteristik daging, dan menghilangkan aroma, rasa, atau tekstur yang ngga diinginkan. Selain komponen protein, serat dan pati dicampurkan untuk menghasilkan produk mendekati karakteristik daging hewan seperti komposisi berserat yang mirip.
Fermentasi juga menjadi proses lain yang biasa digunakan dalam pembuatan daging nabati. Impossible Foods Inc. menciptakan molekul heme nabati (hasil rekayasa fermentasi ragi) yang memungkinkan burger seperti berdarah layaknya burger daging sapi.

Jenis daging nabati
Ada dua jenis utama “daging” nabati, yaitu whole muscle meat product dan restructured meat product. Whole muscle meat products (produk daging otot utuh) dirancang menyerupai steak, dada ayam, atau jenis otot hewan lainnya. Banyak perusahaan mengembangkan steak 100% nabati.
Salah satunya start-up asal Spanyol NovaMeat mengembangkan steak nabati dari kacang polong dan protein beras. Memanfaatkan struktur cetak 3D untuk menghasilkan produk dengan tekstur otot otentik seperti steak daging hewan.
Sedangkan, restructured meat products (produk daging terrestrukturisasi) adalah produk yang meniru produk berbahan daging, seperti daging giling, bakso, sosis, dan nugget.
Plant-based meat vs daging hewan
Plant-based meat memiliki total lemak jenuh lebih rendah daripada daging hewani, dan zero cholesterol. Kolesterol dan lemak jenuh seringkali dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kronis, termasuk diabetes tipe 2, serta risiko kanker lambung dan usus.
“Daging” buatan ini mengandung serat yang ngga dimiliki daging hewan, serta memiliki jumlah protein dan kalori yang sebanding dengan daging hewan. Selain itu, merupakan sumber vitamin, mineral, dan antioksidan. Sebuah studi tahun 2020 meneliti efek kesehatan daging nabati dibanding daging hewani. Ditemukan bahwa peserta yang memakan dua porsi daging nabati selama 8 minggu menurunkan faktor risiko penyakit kardiovaskular dibandingkan dengan peserta yang memakan daging hewani.
Memilih plant-based meat
Guna mendapatkan daging nabati sehat dan bekualitas, cermati label pangannya. Sebaiknya hindari produk yang mengandung bahan, pengisi, atau zat aditif sintetis, serta pastikan ngga mengandung susu dan telur. Kriteria plant based meat yang baik, diantaranya memiliki daftar bahan padat gizi terutama whole food seperti kacang-kacangan, biji-bijian, grain, legume, dan sayuran; difortifikasi vitamin dan mineral seperti B12 atau D; serta memiliki kandungan lemak jenuh menyumbang kurang dari 10% kalori.
Itulah beberapa informasi seputar plant-based meat. Apakah Sahabat Sehat tertarik buat mencobanya? Yuk, bagikan pendapat kamu di kolom komentar.
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
