Sahabat Sehat, kamu pasti sudah tidak asing dengan rosemary yang sering ditambahkan dalam berbagai olahan daging masakan Barat. Dipercaya sebagai obat herbal alami, rosemary ternyata juga bermanfaat bagi kesehatan fungsi sel otak loh!
Apa itu Rosemary?
Rosemary (Salvia rosmarinus) adalah herbal yang tumbuh di area persemakan. Tanaman ini berasal dari wilayah Mediterania dan telah digunakan dalam kuliner dan pengobatan herbal selama ribuan tahun. Daunnya dapat dimakan segar atau dikeringkan, dan populer dikonsumsi sebagai teh atau minyak infus.

Rosemary memiliki bau dan rasa yang kuat, tinggi kandungan antioksidan, minyak atsiri dan senyawa fitokimia lainnya. Rasanya dideskripsikan sebagai hangat dan agak pahit. Meskipun masuk dalam family Lamiaceae yang sama dengan mint, rosemary ngga memiliki rasa mentol.
Kandungan Rosemary
Rosemary kaya akan Mangan, komponen penting untuk kesehatan metabolisme. Mangan membantu tubuh dalam proses pembekuan darah dan mempercepat penyembuhan luka. Juga kaya akan asam pantotenat, niasin, thiamine, folat dan riboflavin. Dalam satu tangkai rosemary terkandung 3,9 kalori, 0,1 g protein, 0,2 g lemak, 0,6 karbohidrat, 0,4 g serat dan 0 g gula.
Rosemary juga merupakan sumber minyak esensial konsentratnya banyak digunakan untuk membantu meringankan kondisi kesehatan termasuk rasa sakit, peradangan, nyeri gastrointestinal, kecemasan dan masalah pernapasan. Minyak esensialnya mengandung banyak senyawa pelindung, seperti cineole, kamper, α-pinena, borneol, asam rosmarinic, rosmanol, karnosol, dan asam karnosat.
Manfaat Rosemary untuk Kinerja Memori
Senyawa 1,8-cineole diduga memiliki efek atas perubahan kinerja memori dan bertindak dengan cara yang sama seperti obat berlisensi untuk mengobati demensia, menyebabkan peningkatan neurotransmitter asetilkolin. Senyawa ini mencegah kerusakan neurotransmitter oleh enzim.
Dalam Complementary Therapies in Clinical Practice terdapat sebuah hasil penelitian pada 68 mahasiswa yang menerima 500 mg rosemary 2 kali sebulan menunjukkan efek positif tanaman herbal tersebut. Penelitian tersebut telah terbukti bahwa rosemary mampu meningkatkan memori prospektif dan retrospektif, mengurangi kecemasan dan depresi, dan meningkatkan kualitas tidur pada mahasiswa.

Cara Konsumsinya
Rosemary dapat dikonsumsi dalam kondisi segar. Meskipun, umumnya telah melewati proses pemasakan atau direndam untuk membuat teh herbal. Ramuan rosemary segar dapat dibilas terlebih dahulu dengan air, tangkai dipisahkan dari batang kayu dan dipotong halus.
Bisa juga dengan menambahkan tangkainya ke dalam semur dan hidangan daging, setelah masak tangkai tersebut disisihkan. Rosemary kering dapat bertahan selama berbulan-bulan jika disimpan dalam wadah tertutup. Sedangkan yang segar bisa disimpan dengan membungkus tangkai dengan tisu basah, dan masukkan ke dalam kantong plastik di lemari es.
Keamanan dan Risiko Alergi
FDA AS menyatakan bahwa rosemary maupun minyak esensialnya aman untuk dikonsumsi sebagai bahan tambahan untuk makanan. Bila dikonsumsi dalam jumlah tinggi, terutama sebagai minyak atsiri atau ekstraknya, berpotensi menyebabkan beberapa efek samping, seperti sakit perut, muntah, kejang atau perubahan tekanan darah, meskipun reaksi ini jarang terjadi.
Ekstrak rosemary telah digunakan selama lebih dari 20 tahun di industri makanan sebagai agen penyedap dan pengawet. Namun, reaksi alergi bisa terjadi pada beberapa orang, meskipun jarang ditemukan.
Bagi individu yang mendapat pengobatan berupa antikoagulan (pengencer darah), ACE inhibitor untuk tekanan darah tinggi, diuretic, dan lithium untuk gangguan kesehatan mental perlu mengonsultasikan dahulu konsumsi rosemary dalam jumlah besar dengan dokter. Semoga informasi ini bermanfaat, Sahabat Sehat!
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
