Sadfishing, Tren Pamer Kesedihan untuk Dapat Perhatian

Pernahkah kamu mendengar tentang sadfishing? Istilah ini merupkan sebutan untuk perilaku seseorang yang mempublikasikan emosi, khususnya rasa sedih berlebihan untuk mencari simpati. Perilaku tersebut bisa ditunjukkan melalui interaksi langsung, maupun via media sosial.

Mengapa Terjadi Sadfishing?

Dilansir dari laman Alodokter, penyebab sadfishing belum diketahui secara pasti, namun diduga pelakunya adalah individu dengan kecenderungan bergantung pada orang lain. Hal tersebut banyak dipengaruhi pengalaman masa kecil. Misalnya, ketika kecil terus menerus diabaikan orang tua saat mengutarakan perasaan, bisa membentuknya menjadi pribadi yang cemas dan memerlukan perhatian orang lain. Orang tua yang sibuk dan jarang menemani anak juga berpengaruh. Saat dewasa, anak kurang menghargai diri sendiri dan membutuhkan banyak motivasi dari orang lain.

sadfishing di sosial media
Foto: Freepik.com

Kondisi kesepian juga menyebabkan sadfishing. Mereka yang sedih, namun tidak punya tempat bercerita, mendorongnya meluapkan kesedihan ke publik. Tujuannya agar memperoleh teman curhat, mendapatkan motivasi, atau mendapatkan solusi.

Orang yang kurang pandai mengelola emosi, biasanya diikuti kecemasan berlebih saat mengalami sesuatu. Mereka meluapkan ke publik untuk memperoleh dukungan yang membuatnya tenang. Berikutnya, faktor stres atau depresi juga mendorong timbulnya perilaku ini demi memperoleh perhatian banyak orang. Dukungan sosial yang buruk juga membuat seseorang kehilangan arah dan mencari dukungan publik, baik secara langsung, maupun lewat media sosial.

Bahaya Sadfishing

Dikutip dari laman KlikDokter, seorang psikolog, Iswan Saputro, M.Psi., menyampaikan bahwa rasa sedih adalah emosi mendasar seorang manusia, sehingga merupkan hal yang wajar jika ingin meluapkannya. Akan tetapi, meluapkannya ke publik dengan harapan memperoleh dukungan dan perhatian justru bisa memberi dampak negatif karena berpotensi merugikan diri sendiri. Berikut risikonya.

Sulit kontrol emosi

Seseorang yang melakukan sadfishing tentu kurang mampu mengendalikan emosi yang dirasakannya. Perasaan sedih yang menguasai, mendorongnya mencari pelampiasan dengan mengumbar kesedihan di media sosial. Hal ini dilakukan secara spontan dan masif akibat kehilangan kontrol diri.

Menurunkan harga diri

Terlepas dari bagaimana respon orang lain, tindakan sadfishing menurunkan harga diri. Cerita kesedihan ke banyak orang atau posting hal menyedihkan di media sosial, terlebih secara masif, justru memperburuk citra diri. Orang menilai hal tersebut tidak sopan karena mengumbar privasi atau melebih-lebihkan kondisi.

dampak negatif sadfishing
Foto: Pexels.com

Bergantung pada pendapat orang lain

Penilaian orang berbeda-beda ketika mendengar cerita sedih atau melihat posting-an di media sosial. Jika seseorang melakukan sadfishing dan mendapat respon yang tidak sesuai keinginannya, atau bahkan diabaikan, maka ia cenderung akan frustasi dan kecewa. Hal ini membuatnya semakin meluapkan kesedihannya ke publik. Adapula yang menjadi diam dan meratapi kekecewaan karena tidak ada yang peduli.

Tips Cegah Sadfishing

Sadfishing bisa menjadi kebiasaan tidak baik jika tidak segera diatasi. Lantas adakah cara untuk mengatasinya? Berikut beberapa langkah positif yang dapat dilakukan.

Memahami Kondisi dan Meminta Bantuan Orang Terdekat

Saat sadfishing sudah menjadi kebiasaan, cobalah memahami kondisi agar tidak terulang lagi. Jika membutuhkan bantuan atau pendengar yang baik, kamu bisa menghubungi orang terdekatmu. Jangan merasa bersalah atau malu meminta bantuan orang lain yang kamu percaya.

Lakukan Hal Ini Dibandingkan Sadfishing

Dibandingkan menarik perhatian orang lain saat kamu merasakan sedih, marah, atau emosi negatif lainnya, lebih baik menyalurkannya ke hal positif. Tumpahkan kesedihanmu dengan melakukan hobi atau kegiatan menyenangkan lainnya. Jika sudah punya cukup energi, kamu bisa curhat ke orang terdekat. Melakukan aktivitas fisik atau olahraga juga meningkatkan hormon kebahagiaan dan menurunkan stres.

Konseling

Setelah melakukan sadfishing, sebaiknya tidak mengulanginya. Kamu cukup mencari tahu sebabnya. Jika tidak tahu sebabnya atau tidak mampu mengatasinya, segeralah berkonsultasi ke psikolog atau psikiater. Cara ini tepat untuk menyembuhkan kesehatan mental. Metode terapi yang digunakan untuk melatih mengekspresikan emosi dengan baik sangatlah beragam, dengan melakukan konseling kamu akan mengetahui mana yang paling cocok denganmu.

Sadfishing adalah akibat dari guncangan emosional, sehingga perlu kecerdasan mengelola emosi. Selain mengetahui cara mengatasi sadfishing, alangkah baiknya mencegah sebelum terjadi. Pendekatan dengan keluarga, khususnya orang tua dan anak, sangat efektif menurunkan kecenderungan sadfishing. Lingkungan positif dalam pertemanan, tempat kerja, komunitas, sangat membantu.

Referensi

Alodokter. 2022. Mengenal Anxious Attachment Style Sadfishing, Umbar Kesedihan untuk Dapat Perhatian. https://www.alodokter.com/mengenal-anxious-attachment-style-sadfishing-umbar-kesedihan-untuk-dapat-perhatian. Diakses pada 28 Januari 2024.

Nurmayanti, Siti Putri. 2023. Sadfishing, Tren Pamer Kesedihan di Media Sosial. https://www.klikdokter.com/psikologi/kesehatan-mental/sadfishing-tren-pamer-kesedihan-di-media-sosial. Diakses pada 28 Januari 2024.

Salsabila, Amira. 2023. Mengenal Sadfishing, Tren Pamer Kesedihan di Media Sosial untuk Dapat Perhatian. https://www.haibunda.com/moms-life/20231114142424-76-321088/mengenal-sadfishing-tren-pamer-kesedihan-di-media-sosial-untuk-dapat-perhatian. Diakses pada 28 Januari 2024.

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.