Kenali Diri dengan Subjective Well Being

Hola Sahabat Sehat, topik kesehatan mental ramai diperbincangkan belakangan ini. Generasi muda memiliki kepekaan dan kesadaran yang cukup tinggi. Dalam psikologi, dikenal istilah subjective well being. Sahabat Sehat, yuk simak penjelasan di bawah ini untuk lebih mengetahui tentang subjective well being.

faktor yang me mperngaruhi well being
Foto: Pexels.com

Definisi Subjective Well Being

Subjective well being adalah evaluasi seseorang terhadap hidupnya sendiri, meliputi evaluasi afektif dan kognitif. Adapun evaluasi afektif yakni reaksi seseorang terhadap kejadian yang melibatkan emosi yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Sedangkan evaluasi kognitif adalah terkait dengan kepuasan hidup seseorang secara menyeluruh dan khusus.

Secara sederhana, subjective well being adalah kesejahteraan individu. Seseorang dikatakan memiliki subjective well being yang tinggi adalah ketika mereka banyak merasakan emosi yang menyenangkan dan sedikit merasakan emosi yang tidak menyenangkan.

Para peneliti dari University of Johannesburg sepakat bahwa seseorang yang memiliki subjective well being yang tinggi, lebih memiliki motivasi yang tinggi, prestasi akademis, harga diri yang tinggi dan kompetensi sosial yang baik. Dalam “Subjective Well-being (Happiness)” oleh Eddington dan Shuman, berikut ini faktor yang mempengaruhi tingkat subjective well being seseorang.

Usia

Kepuasan hidup seseorang tidak mengalami penurunan seiring bertambahnya usia. Hanya saja terdapat sedikit penurunan dalam mood. Penurunan kepuasan hidup yang ngga terlalu signifikan ini dikarenakan manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi sesuai kondisi usianya.

pengaruh pekerjaan terhadap well being
Foto: Pexels.com

Kepuasan Kerja

Seseorang yang puas akan dunia kerjanya, merasa bahagia karena kerja seperti menawarkan level stimulasi optimal sehingga individu untuk menemukan kesenangan. Selain itu, dengan dunia kerja yang memuaskan, mampu menciptakan hubungan sosial yang positif. Seseorang yang menganggur mengalami tingkat stress yang lebih tinggi, kepuasan hidup yang lebih rendah.

Pernikahan

Seseorang yang tidak pernah menikah atau berpisah karena cerai menunjukkan kebahagiaan yang lebih kecil jika dibandingkan dengan individu yang menikah. Banyak peneliti mengatakan bahwa pernikahan bisa menjadi penyangga dalam menghadapi kesulitan hidup, saling memberikan dukungan emosional dan finansial sehingga mendapatkan keadaan well being yang positif.

Jenis Kelamin

Secara umum, tidak ada perbedaan subjective well being yang signifikan antara laki-laki dan perempuan. Hanya saja, pada perempuan lebih banyak mengungkapkan afek negatif dan depresi dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini dikarenakan perempuan mengakui adanya perasaan negatif tersebut sedangkan laki-laki menyangkalnya. Laki-laki menyangkal, salah satunya karena alasan ngga ingin dipandang lemah.

Adapun Sahabat Sehat bisa melakukan beberapa cara untuk meningkatkan subjective well being. Misalnya dengan meningkatkan value diri, mengekspresikan rasa syukur, bermeditasi, melakukan kebaikan, dan menggambarkan target di masa depan.

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

Referensi

Croxford, S. A. (2011). Gratitude and subjective well-being in the group of adolescents. Johannesburg: University of Johannesburg

R. Snyder & Shane J. Lopez, Handbook of Positive Psychology, (United Kingdom: Oxford University Press, 2002), 63.

Ed Diener, “Subjective well being: The Science of Happiness and a Proposal for National Index”, American Psychologist Vol. 55 No. 1 (Januari 2000), 34.

Eddington & Shuman, Subjective Well-being (Happiness), (California: Continuing Psychology Education Inc. 2008), 3-6.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.