Sahabat Sehat, tentunya kamu pernah mencicipi dendeng. Dendang merupakan produk olahan daging sekaligus awetan daging tradisional khas Indonesia. Namun, konsumsi dendeng seringkali dikaitkan dengan kenaikan kolesterol dan hipertensi. Benarkah demikian?

Apa itu dendeng?
Dendeng adalah olahan daging awetan yang diberi berbagai macam bumbu rempah dan dikeringkan. Tak hanya dinikmati di Indonesia, olahan dendeng juga menjadi konsumsi lazim masyarakat Asia, Eropa, dan Amerika. Di Amerika Serikat terdapat beef jerki yang mirip dengan dendeng. Sedangkan di Indonesia sendiri terdapat berbagai macam dendeng, di antaranya dendeng bakotok, dendeng iris (dendeng kering), dendeng sayat, dan dendeng giling yang umumnya dibuat dari daging sapi atau kerbau.
Proses Pembuatan Dendeng
Proses pembuatan dendeng bisa bervariasi dikarenakan belum adanya standarisasi produk dendeng. Resep dendeng bisa bervariasi bergantung pada pengolahnya. Secara garis besar, proses pembuatan dendeng dimulai dengan pengirisan daging dengan tebal 2-5 cm, diberi campuran rempah dan gula merah, kemudian dikeringkan. Pengeringan di bawah sinar matahari biasanya berlangsung 4-5 hari.
Penggunaan gula merah sekitar 30% berat daging. Gula merah dalam jumlah tinggi akan meningkatkan daya simpan dendeng, linier dengan menurunnya kadar air daging. Namun, penambahan gula ini juga ikut mempengaruhi tingginya kalori pada dendeng.
Campuran bumbu yang digunakan berupa garam dapur, lengkuas, lada, ketumbar, asam jawa, bawang merah dan bawang putih. Penambahan berbagai bumbu ini dimaksudkan untuk memberikan flavor spesifik, sekaligus berkontribusi pada peningkatan kadar karbohidrat dan kadar mineral dendeng.

Kandungan Gizi Daging Dendeng
Dalam 100 g dendeng sapi terkandung 433 kkal, 55 g protein, 9 g lemak, dan 10,5 g karbohidrat. Selain itu, mengandung 30 mg kalsium, 370 mg fosfor, 5,1 mg besi, dan 0,1 mg vit.B1. Dendeng juga mengandung sejumlah kecil serat, dalam 82 g dendeng terkandung 443 mg natrium dan 119 mg kalium.
Kandungan mineral lainnya termasuk magnesium, kolin, selenium, dan tiamin. Kandungan lemak dendeng tersusun dari sebagian besar asam lemak jenuh dan asam lemaak tak jenuh tunggal, diikuti asam lemak tak jenuh ganda. Dendeng juga mengandung sedikit asam mangan, molibdenum, dan pantotenat.
Manfaat dan Risiko Konsumsi
Kandungan protein dendeng tinggi baik untuk memelihara otot dan pemeliharaan sel tubuh. Karbohidrat, protein dan lemak bisa menjadi sumber energi. Kandungan kalsium baik untuk gigi dan tulang. Fosfor berfungsi untuk menjaga kerja otot dan saraf, menjaga keseimbangan pH dan juga membantu kerja ginjal.
Meski, kandungan gizi dendeng baik bagi tubuh, perlu diketahui juga bahwa konsumsinya dalam jumlah berlebihan dapat berefek negatif bagi kesehatan. Ini karena kandungan natrium dalam dendeng cukup tinggi.
Kemenkes menyarankan konsumsi garam harian maksimal 2000 mg, sedangkan alam sepotong besar dendeng (82 g) terkandung 443 mg natrium setara dengan 20% kebutuhan natrium. Asupan natrium berlebih dapat memicu hipertensi, penyakit jantung, dan stroke.
Konsumsi daging merah dan diawetkan juga dikaitkan dengan gangguan pencernaan. Selain itu, daging kering yang diawetkan berpotensi terkontaminasi mikotoksin yang juga sering dikaitkan dengan risiko terhadap beberapa jenis kanker.
Sahabat Sehat, rasanya yang enak menjadikannya favorit banyak orang. Dendeng baik bagi kesehatan, tetapi konsumsi yang berlebihan juga bisa mengancam kesehatan. Jangan khawatir, kamu masih bisa kok menikmati dendeng, asal dalam jumlah moderate.
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
