Sahabat Sehat, anak pendek menjadi momok bagi setiap orang tua. Banyak faktor memengaruhi tinggi badan anak yang harus diperhatikan di setiap fasenya. Pertumbuhan anak dapat dioptimalkan pada 3 fase, yaitu fase janin, bayi, dan pubertas. Apa saja faktor yang perlu diperhatikan? Yuk, simak informasinya lebih lanjut!
Fase Janin
Pertumbuhan dan perkembangan anak perlu dipersiapkan bahkan sebelum hamil atau saat perempuan baru merencanakan kehamilan. Pastikan calon ibu siap secara fisik dan mental saat hamil kelak. Salah satu isu kesehatan bagi masyarakat Indonesia yaitu Wanita Usia Subur (WUS) mengalami anemia sehingga risiko ibu hamil mengalami anemia juga semakin tinggi. Anemia pada ibu hamil menyebabkan bayi lahir prematur atau Berat Badan Bayi Lahir Rendah (BBLR).

Menurut Prof. Dr. dr. Aman Bakti Pulungan, Sp.A (K), kelahiran prematur dan BBLR berisiko menyebabkan bayi lahir dengan panjang badan kurang dari 48 cm. Faktanya, di Indonesia sekitar 20% bayi lahir dalam keadaan panjang badan kurang dari 48 cm. Selain itu, ada beberapa faktor lain yang menyebabkan bayi dengan panjang kurang, seperti penyakit bawaan lahir atau ibu kekurangan makro dan mikronutrien saat hamil. Jika kondisi ini telah terjadi maka dokter anak akan menyarankan mengejar ketertinggalan pertumbuhan panjang badan di fase bayi.
Fase Bayi
Bayi usia 0 bulan hingga 5 tahun disarankan dicek kesehatan rutin termasuk berat dan tinggi badan setiap bulan. Pengecekan rutin bisa dilakukan ke dokter spesialis anak, puskesmas, atau secara gratis ke posyandu. Hal ini untuk mengetahui kurva pertumbuhan anak setiap bulannya.

Jika kurva Z score TB/U ( Tinggi Badan menurut Umur) atau PB/U (Panjang Badan menurut Umur) menunjukkan angka -2 maka perlu diwaspadai kondisi anak pendek menurut kurva CDC (Controls for Disease Control and Prevention). Jika Z score menunjukkan angka di bawah -3 maka anak dikategorikan sangat pendek. Perlu diketahui bahwa pendek dan stunting merupakan dua hal yang berbeda.
Vitamin D, kalsium, dan zat besi merupakan tiga mikronutrien yang sangat penting bagi pertumbuhan anak, meskipun tidak mengesampingkan kebutuhan gizi lainnya yang harus diupayakan seimbang. Menurut National Library of Medicine, anak dan remaja Indonesia mengalami darurat defisiensi vitamin D. Data menunjukkan risikonya lebih tinggi terjadi pada anak perempuan dibandingkan laki-laki. Oleh karena itu, asupan vitamin D perlu dicukupi saat 1000 HPK dan balita.
Fase Pubertas
Jika kondisi tinggi badan anak saat bayi dan balita tidak sesuai pertumbuhan normalnya, maka ketertinggalan dapat dikejar saat masa pubertas. Menurut Prof. Dr. dr. Aman Bakti Pulungan, Sp.A (K), pastikan anak laki-laki mengalami pubertas saat tingginya minimal 145 cm dan anak perempuan minimal 135 cm. Jika kurang dari itu, maka penambahan tinggi badan setelahnya dipastikan tidak akan mencapai optimal. Pada laki-lak, pubertas dimulai saat buah zakar mulai tumbuh dan berkembang, sementara pada perempuan saat payudara mulai tumbuh dan berkembang.
Sahabat Sehat, banyak faktor yang memengaruhi pertumbuhan tinggi badan anak, di antaranya asupan gizi, lingkungan, olahraga, dan genetik. Oleh karena itu, orang tua perlu memastikan tumbuh kembang optimal pada tiga fase di atas. Jangan lupa bagikan informasi ini ke orang-orang sekitar kamu, ya!
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
