Sahabat Sehat, sekarang ini, isu kesehatan mental sedang banyak dibahas. Laporan UNICEF yang berjudul “The State of The World’s Children 2021: On My Mind: Promoting, Protecting, and Caring for Children’s Mental Health” mengungkap bahwa 1 dari 7 remaja yang berusia 10-19 tahun mengalami kondisi kesehatan mental yang tidak baik-baik saja, seperti burnout dan tingkat kecemasan yang tinggi.
Dengan demikian, perlu dilakukan upaya untuk mencegah timbulnya hal yang ngga diinginkan, termasuk keterlibatan peran guru di sekolah. Melalui kegiatan sekolah berikut ini, kesehatan mental pelajar bisa lebih terjaga.

Pembelajaran Interaktif
Sekolah memegang peran penting dalam meningkatkan kesehatan mental. Akan tetapi, faktanya peran sekolah masih terbatas dan cenderung sempit. Penyebabnya adalah kurikulum yang diterapkan hanya fokus dalam ranah akademik, sementara fokus pemberdayaan anak agar berkembang dalam hubungan sosial masih belum terumuskan dengan baik. Hal tersebut disampaikan Prof. Hary Minas dari Melbourne University dalam acara School Wellbeing and Children Mental Health Workshop di Fakultas Psikologi, UGM.
Merespon hal tersebut, sistem pembelajaran di sekolah harus mencakup aspek hubungan sosial yang interaktif untuk melatih kemampuan siswa dalam bersosialisasi. Rasa percaya diri dan kemampuan menanggapi sesuatu secara responsif dalam diperoleh melalui pembelajaran interaktif. Guru dan siswa terlibat aktif dalam pembelajaran, sehingga bisa membangun kedekatan emosional yang menekan stres dan kebosanan dari berbagai tugas belajar.

Konseling
Di setiap sekolah pasti terdapat program konseling yang dikenal dengan Bimbingan dan Konseling (BK). Guru BK berperan sangat penting dalam memantau kondisi psikologis siswa. Layanan BK ini dapat memfasilitasi siswa untuk berkonsultasi mengenai kendala belajar, kesulitan dalam beradaptasi, hingga persoalan antar siswa, seperti bullying. Selain itu, guru BK bisa mendekati dan memantau siswa yang terlihat murung, sedih, atau kurang percaya diri secara intensif untuk mengetahui persoalan yang dihadapi supaya bisa terselesaikan.
Mentoring
Selain layanan konseling, kegiatan mentoring juga diperlukan untuk memfasilitasi peningkatan kemampuan siswa. Dalam kegiatan ini, guru sebagai mentor bisa menanyakan dan memahami kesulitan yang dialami siswa, kemudian memberikan motivasi dan solusi yang relevan.
Guru juga memberikan informasi tambahan yang mendukung peningkatan prestasi belajar siswa. Agar berjalan efektif, guru dapat membagi siswa menjadi beberapa kelompok kecil.
Sesi Mindfulness
Seiring dengan pemberian motivasi dan penyelesaian masalah yang dihadapi siswa, sekolah dapat menyediakan sesi mindfulness. Sesi ini berupa pembentukan dan penguatan pola pikir siswa agar lebih berdaya juang, tangguh, visioner, dan adaptif.
Dalam sesi ini, siswa dituntun untuk mengucapkan rasa syukur ke alam bawah sadar, menenangkan pikiran, dan melatih fokus. Sesi tersebut dapat diterapkan secara berkala, misalnya menjelang ujian sekolah, ujian praktik, dan UAS.
Ekstrakurikuler
Potensi akademik dan non akademik siswa perlu digali secara beriringan. Selain menjadi tempat belajar akademik, sekolah juga perlu memberikan fasilitas pengembangan diri.
Klub ekstrakurikuler sangat efektif sebagai sarana pengembangan diri. Siswa bisa memilih satu atau lebih ekstrakurikuler yang sesuai dengan minat atau bakatnya. Kreativitas dan kemampuan sosialisasi siswa bisa dikembangkan dari sini.
Di samping itu, siswa juga berkesempatan mengikuti perlombaan dan menambah prestasi dari segi non akademik. Dengan demikian, kesehatan mentalnya tetap terjaga karena kegiatan ekstrakurikuler ini menjadi hiburan di tengah kegiatan belajar yang padat.
Beragam kegiatan tersebut mampu menyeimbangkan antara kegiatan belajar dan non akademik. Kolaborasi antara guru dan orang tua juga sangat diperlukan untuk menjaga kesehatan mental siswa.
Sebagai rumah kedua, sekolah diharapkan mampu melindungi dan mengayomi para pelajar. Semua guru di sekolah adalah orang tua kedua, sehingga diharapkan mampu memahami dan membantu menyelesaikan persoalan yang dialami para siswa.
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
