Makanan yang digoreng memang banyak digemari, mulai dari anak yang masih berusia sekolah hingga orang dewasa. Teksturnya yang renyah, menjadi salah satu daya tarik makanan olahan yang satu ini. Tapi, bagaimana jadinya bila gorengan yang kamu konsumsi diolah dengan minyak jelantah yang sudah digunakan berkali-kali. Mungkin kamu akan berpikir dua kali sebelum menikmatinya.
Kenapa minyak jelantah berbahaya?

Penggunaan minyak berulang kali biasanya dilakukan karena dianggap bisa menghemat waktu dan juga biaya saat memasak. Meskipun sebagian besar telah mengetahui risikonya, ada banyak dapur yang masih menerapkan kebiasaan buruk ini. Jika dilakukan secara terus-menerus, hal ini bisa menyebabkan risiko yang besar untuk kesehatan, loh! Berikut ini bahaya yang bisa ditimbulkan dari penggunan minyak jelantah.
Menyebabkan penyakit degeneratif
Minyak yang dipanaskan berulang kali akan menghasilkan senyawa karsinogenik yang bisa menyebabkan kanker. Semakin sering minyak dipanasakan, maka semakin banyak pula senyawa radikal bebas yang terbentuk. Bila radikal bebas yang terkonsumsi bisa menimbulkan peradangan di dalam tubuh dan memicu terjadinya penyakit degeneratif seperti jantung koroner, diabetes, obesitas, hingga kanker. Salah satu ciri minyak yang sudah banyak mengandung radikal bebas yaitu memiliki aroma dan rasa tengik.
Bisa meningkatkan LDL
LDL (low density lipoprotein) merupakan kolesterol yang bisa meningkatkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular seperti hipertensi, gagal jantung, dan stroke. Minyak sayur ternyata sangat sensitif terhadap suhu tinggi. Saat dipanaskan pada suhu tinggi dalam waktu yang lama, asam lemak pada minyak sayur akan beruban dari asam lemak tak jenuh menjadi asam lemak jenuh. Nah, hal inilah yang bisa memicu peningkatan LDL dalam tubuh.
Mengandung bakteri
Minyak yang sudah digunakan berkali-kali ternyata juga bisa menjadi sarang bakteri, loh! Sisa remahan yang terdapat pada minyak mungkin menjadi salah satu penyebabnya. Terlebih, jika minyak jelantah tersebut disimpan dalam tempat terbuka dan kotor sebelum digunakan kembali. Salah satu bakteri yang sering ditemukan adalah Clostridium botulinum penyebab botulisme, keracunan parah yang bisa berakibat fatal.
Tips mengurangi penggunaan minyak jelantah

Setelah mengetahui berbagai risiko yang bisa ditimbulkan dari penggunaan minyak jelantah, pasti kamu akan lebih berhati-hati dalam menggoreng makanan. Nah berikut ini beberapa tips yang bisa kamu gunakan:
- Gunakan minyak dalam jumlah secukupnya, hal ini bisa dilakukan untuk mengurangi jumlah minyak sisa yang dihasilkan.
- Jangan terlalu panas, penggunaan panas yang terlalu tinggi bisa mempercepat proses oksidasi yang bisa merusak kualitas minyak. Sebaiknya menggoreng pada suhu 95-120°C jika ingin melakukan pan-frying dan suhu sekitar 190°C untuk deep frying.
- Gunakan minyak berkualitas baik, salah satu ciri minyak yang memiliki kualitas baik yaitu ngga cepat berasap jika dipanaskan. Saat minyak mulai berasap, asam lemak didalamnya akan mulai terurai.
- Simpan dengan baik, jika minyak yang sudah digunakan belum mengalami perubahan warna menjadi menghitam, beraroma tengik dan ngga mudah berasap kamu bisa menyimpannya dalam wadah yang bersih dan tertutup. Pastikan juga untuk menyaring minyak tersebut utnuk memisahkan dari remahan sisa penggorengan sebelumnya.
Teman Sehat, jadi itulah penyebab minyak jelantah ngga baik untuk digunakan. Mungkin pengaruhnya ngga akan terlihat sekarang, tapi ngga ada salahnya untuk mencegah dari kemungkinan terburuk di masa mendatang. Semoga informasi ini bermanfaat, ya!

yuk sedekah minyak jelantah